Jumat, 10 Februari 2012

Iseng Nulis

Aku injakkan kakiku di kampus yang hijau permai ini. Dimana kebesaran Allah tersirat dalam pepohonan yang berjajar bagaikan gugusan bintang acak yang tak tentu arah. Begitulah dengan kampusku, kampus yang terdapat jutaan lebih manusia dari seluruh penjuru Indonesia bahkan hingga luar Indonesia yang hidup berdampingan dengan alam ciptaan Sang Maha Pencipta. Inilah kampusku, kampus yang sering disebut sebagai kampus hijau nan permai.

Tiada kata yang tepat aku ucapkan saat menginjakkan kaki manusia lemah sepertiku kecuali kata yang agung bissmillah hirrahmanirrahim. Begitulah hati ini mempekikikan kata-kata itu agar Allah selalu melimpahkan rahmatnya kepada manusia lemah sepertiku. Saat itu, hati ini terbagi menjadi dua sisi yang tiada bisa menyatu dan saling mengalah. “Aku ibarat pohon yang semula berada diantar kekuatan dan kelemahan, mungkinkah disini aku menjadi pohon yang reot dan jatuh dalam lubang yang disana tiada cahaya sedikit pun dari Allah ataukah aku akan menjadi sebuah pohon yang semakin kokoh dan kokoh yang tak mudah terhempas angin topan bahkan badai pasir di gurun tandus yang gersang.

Inilah ceritaku, dimana aku berdiri diatas tanah tanpa pondasi dan pagar pelindung yang menjagaku. Aku hanya berlindungi kepada Allah dari godaan syaitan yang tak akan lelah mengajak manusia sepertiku bersama menikmati kejamnya neraka Allah. Al-Quran dan As-Sunnah yang semoga saja Allah tetap memahamkannya kepada hamba yang selalu mengharap rido-Nya.

Ya Allah, yang jiwaku berada dalam genggaman-Mu
Aku berlindung kepada-Mu dari godaan syaitan yang terkutuk
Ya Allah, yang jiwaku berada dalam genggaman-Mu
Aku berlindung kepada-Mu dari apa-apa yang aku tidak ketahui dan yang aku ketahui
Ya Allah, yang jiwaku berada dalam genggaman-Mu
Aku berlindung dari fitnah yang berbahaya bagi laki-laki yaitu wanita
Ya Allah, yang jiwaku berada dalam genggaman-Mu
Tiada kuasa selain dari-Mu dan tiada kehendak selain kehendak-Mu




Dalam bayang yang tidak akan pernah aku bisa menangkapnya walaupun dia selalu mengikutiku disaat cahaya sedang menerpa pelipis pipiku. Mungkin itulah gambaran diriku dengan hitam yang bersarang di tubuh bertulang ini. Dimana aku berlari dia berlari, kapan aku berhenti dia juga berhenti. Ingin aku tinggalkan bayangan ini, walaupun hanya satu nano meter saja tetapi tidak akan pernah bisa.

Aku mulai menyadari bahwasannya bayangan itu adalah ancaman kegagalanku yang aku takut dengan kegagalan tersebut. Mungkin tidak hanya manusia sepertiku yang takut akan hal itu, tetapi juga manusia-manusia yang masih bisa menghelai nafas dihari ini. Namun, semua itu salah dan aku sudah lebih menyadari bahwasannya kegagalan itu bukan untuk ditakuti, melainkan sebuah pegas untuk melontarkan aku menuju ciat-cita yang terpampang di otakku.

Berhari-hari aku lewati hidup dalam lingkungan yang tiada pernah aku mencita-citakannya yaitu di tanah Bogor yang penuh dengan hujan. Aku pun mulai merasakan indahnya berbunga disini, aku pun mulai mengepakkan sayap-sayaku disini untuk terbang bersama bintang-bintang nan jauh disana. Mungkin orang yang membaca kisahku merasa aku akan terbang semudah kupu-kupu terbang diantara dedaunan dan mendapatkan dengan mudah apa yang aku inginkan. Tidak, aku bukanlah kupu-kupu yang terbang diantara dedaunan tetapi aku adalah kupu-kupu yang akan terbang menembus awan  dan angkasa tanpa O2 disekitarku. Apakah menurutmu aku akan gagal? Apakah menurutmu aku akan berhasil? Biarlah takdir Allah yang menjawabnya, aku hanyalah manusia lemah tak berdaya yang sengaja diciptakan oleh Allah agar aku selalu bertawakal, berdoa, dan bersyukur kepada-Nya.

1 komentar: