Aku injakkan kakiku di
kampus yang hijau permai ini. Dimana kebesaran Allah tersirat dalam pepohonan
yang berjajar bagaikan gugusan bintang acak yang tak tentu arah. Begitulah
dengan kampusku, kampus yang terdapat jutaan lebih manusia dari seluruh penjuru
Indonesia bahkan hingga luar Indonesia yang hidup berdampingan dengan alam
ciptaan Sang Maha Pencipta. Inilah kampusku, kampus yang sering disebut sebagai
kampus hijau nan permai.
Tiada kata yang tepat aku
ucapkan saat menginjakkan kaki manusia lemah sepertiku kecuali kata yang agung
bissmillah hirrahmanirrahim. Begitulah hati ini mempekikikan kata-kata itu agar
Allah selalu melimpahkan rahmatnya kepada manusia lemah sepertiku. Saat itu,
hati ini terbagi menjadi dua sisi yang tiada bisa menyatu dan saling mengalah.
“Aku ibarat pohon yang semula berada diantar kekuatan dan kelemahan, mungkinkah
disini aku menjadi pohon yang reot dan jatuh dalam lubang yang disana tiada cahaya
sedikit pun dari Allah ataukah aku akan menjadi sebuah pohon yang semakin kokoh
dan kokoh yang tak mudah terhempas angin topan bahkan badai pasir di gurun
tandus yang gersang.
Inilah ceritaku, dimana aku
berdiri diatas tanah tanpa pondasi dan pagar pelindung yang menjagaku. Aku
hanya berlindungi kepada Allah dari godaan syaitan yang tak akan lelah mengajak
manusia sepertiku bersama menikmati kejamnya neraka Allah. Al-Quran dan
As-Sunnah yang semoga saja Allah tetap memahamkannya kepada hamba yang selalu
mengharap rido-Nya.
Ya Allah, yang jiwaku berada dalam genggaman-Mu
Aku berlindung kepada-Mu dari godaan syaitan yang terkutuk
Ya Allah, yang jiwaku berada dalam genggaman-Mu
Aku berlindung kepada-Mu dari apa-apa yang aku tidak ketahui dan yang
aku ketahui
Ya Allah, yang jiwaku berada dalam genggaman-Mu
Aku berlindung dari fitnah yang berbahaya bagi laki-laki yaitu wanita
Ya Allah, yang jiwaku berada dalam genggaman-Mu
Dalam bayang yang tidak
akan pernah aku bisa menangkapnya walaupun dia selalu mengikutiku disaat cahaya
sedang menerpa pelipis pipiku. Mungkin itulah gambaran diriku dengan hitam yang
bersarang di tubuh bertulang ini. Dimana aku berlari dia berlari, kapan aku
berhenti dia juga berhenti. Ingin aku tinggalkan bayangan ini, walaupun hanya
satu nano meter saja tetapi tidak akan pernah bisa.
Aku mulai menyadari
bahwasannya bayangan itu adalah ancaman kegagalanku yang aku takut dengan
kegagalan tersebut. Mungkin tidak hanya manusia sepertiku yang takut akan hal
itu, tetapi juga manusia-manusia yang masih bisa menghelai nafas dihari ini.
Namun, semua itu salah dan aku sudah lebih menyadari bahwasannya kegagalan itu
bukan untuk ditakuti, melainkan sebuah pegas untuk melontarkan aku menuju
ciat-cita yang terpampang di otakku.
Berhari-hari aku lewati
hidup dalam lingkungan yang tiada pernah aku mencita-citakannya yaitu di tanah
Bogor yang penuh dengan hujan. Aku pun mulai merasakan indahnya berbunga
disini, aku pun mulai mengepakkan sayap-sayaku disini untuk terbang bersama
bintang-bintang nan jauh disana. Mungkin orang yang membaca kisahku merasa aku
akan terbang semudah kupu-kupu terbang diantara dedaunan dan mendapatkan dengan
mudah apa yang aku inginkan. Tidak, aku bukanlah kupu-kupu yang terbang
diantara dedaunan tetapi aku adalah kupu-kupu yang akan terbang menembus
awan dan angkasa tanpa O2 disekitarku. Apakah menurutmu aku akan gagal?
Apakah menurutmu aku akan berhasil? Biarlah takdir Allah yang menjawabnya, aku
hanyalah manusia lemah tak berdaya yang sengaja diciptakan oleh Allah agar aku
selalu bertawakal, berdoa, dan bersyukur kepada-Nya.

semangat...
BalasHapus